Me and My Son
Kamis, 16 April 2015
Setelah lama tidak aktif dalam menulis blog, baru hari ini saya dapat membuka kembali. pengen curhatan saja. Bulan April dikenal sebagai Autism Awareness month, kami sebagai oarngtua, pemerhati dan pelaku dalam dunia Autisma ini pasti akan sibuk wara wiri merencanakan aksi ataupun acara untuk sosialisasi dan penerimaan individu autis.
yang saya ingin curhat adalah aksi inisudah lama kami laksanakan tapi masyarakatnampaknya belum sepenuhnya ngeh dengan dunia "Autisme" ini, keapa saya katakan demikian ? karena pada saat kami outing dengan anak-anak spesial ini di ranah umum seperti di taman, mall maupun aren hiburan lainnya, masih saja mata orang lain akan menengok ke arah kami karena anak-anak kami pasti akan bertingkah "aneh". Bukan saja menengok tapi juga dilanjutkan dengan bisik-bisik dan semacamnya . Kapankah masyarakat akan mengerti ? kami sudah melakukan sosialisasi dimana-mana, rasanya sudah cukup. ini yang membuat kami biasanya menjadi miris dengan keadaan yang kami hadapi.
Jadi sebagai orang tua dan pemerhati saya berpikir bahwa mungkin kami ini orang tua tidak perlu lagi sosialisasi, karena sudah cukup sosialisasinya. Jadi apa dong ?? Pusing mikirnya.... membuat rambut memutih (hehehe).
Sepertinya orang tua harus lebih mempersiapkan anaknya agar bisa diterima dimasyarakat umum. Dengan intervensi dini dengan mengikuti terapi plus BIT. Mendengar kata terapi dan BIT saja bisa menambah pusing tujuh keliling kepala ortu karena menyangkut biaya dan waktu yang tidak main-main mahal dan banyak serta lama. Sharing saja seperti anak saya Aldo itu membutuhkan 6 tahun terapi intensif baik ABA maupun OT/SI serta BIT. Jangan bertanya berapa duit yang sudah dikeluarkan karena saya tidak pernah membuat pembukuan tentang itu sebab saking banyaknya. Lha...jadi kalau ortu pas-pasan saja bagaimana ? Apakah anaknya tertolong ? Sekali lagi semuanya bisa kita atasi sebab dimana ada kemauan pasti ada jalan, Tuhan tidak pernah tuli dan tidak pernah tidak menjawab doa umatNya. Yang utama adalah sebagai orangtua kita harus menerima anak kita apa adanya, jangan sekali kali menyalahkan ataupun mengasihani diri kita. Awal-awal bolehlah tapi jangan lama..... karena kita berburu dengan waktu. Waktu sangat berharga bagi kita (ortu dan anak). Bila tidak mempunyai cukup peluru untuk mengikutkan anak untuk terapi maka kita bisa browsing diinternet cara diet BIT, untuk terapi ABA kita bisa ikut masuk dalam ruang terapi dan mempelajari apa yang diajarkan oleh terapis pada anak kita sehingga kita bisa mengulang kembali dirumah. Menurut para pakar ABA, terapi ABA harus 7 jam sehari (wkwkwk.....). Beraaat???? iyalah berat nian, saya sudah mengalaminya selama 6 tahun. Untuk para ortu baru yang masih punya anak yang masih kecil, ayo jangan berleha-leha karena waktu terus berlalu sebentar lagi si Unyil kita ini akan berubah menjadi remaja yang bisa membuat ortu nightmare. Ini kenyataan lho....
Rabu, 26 Maret 2014
MAJU SELANGKAH
Ketika itu hari Minggu, aku
sedang duduk dibangku belakang gereja dengan suamiku bersama Didi dan Aldo (kami
tidak pernah berani duduk di bangku depan karena perilaku Aldo yang sulit
diprediksi). Saat itu Misa sedang berlangsung dan gereja penuh. Pada saat itu
kami lagi khusuk mendengarkan Pastor berkhotbah ketika perhatianku tertarik
pada sesuatu di dekat altar, kepala kecil Aldo sedang mendongak melihat kipas
angin yang tepat berada di atas altar, dia berdiri terpaku tidak bergerak dengan
pandangan mata yang tertuju ke atas ke kipas angin yang sedang berputar.Dan
Pastor yang sedang berkhotbah sempat terdiam memperhatikan anakku Aldo yang
dengan cueknya menatap ke langit-langit. Aku sungguh ketakutan dan bingung
karena aku tidak mengira Aldo bisa lolos dari pengawasanku dan berjalan menuju
altar. Didi pergi menjemput adiknya di depan altar.
Aldo tidak pernah berteriak di
depan umum atau berlari-lari, semenjak sesi terapi ABA diterapkan kepadanya,
perilaku Aldo sudah berubah menjadi lebih patuh asalkan Aldo tidak melihat
benda berputar. Di gereja aku lupa bahwa begitu banyak kipas angin yang
menggantung di langit-langit gereja. Aldo secara otomatis akan berlari ke benda
yang berputar. Baik di mal maupun di jalan.
Sekali lagi Tuhan campur tangan
dalam segala situasi. Melalui benda berputar itu ( kipas angin, outdoor AC)
anakku Aldo mulai bisa berbicara, menghitung dan bertanya. “Ini apa?” itulah
kata-kata yang keluar dari mulutnya bila melihat benda berputar, dan aku akan
menjawabnya :” itu kipas angin” atau “itu AC”. Dalam sesi terapi ABA, Aldo
diajar berkomunikasi memakai compic ( comunication picture). Di rumah kami
tersedia buku compic dan aku melatihnya berbicara melalui gambar. Dimulai dari
hal yang sederhana : “ Aldo mau pipis”, sebelum dia di antar ke toilet untuk
pipis Aldo harus menyusun compicnya.
Kata-kata yang keluar pertama
dari mulut Aldo adalah “ Aldo mau pipis”. Pada saat pertama kali Aldo
mengucapkan kalimat sederhana itu ough.......... seakan aku mendapatkan undian
1 milyar rupiah. Aku langsung meloncat-loncat kegirangan menelpon suamiku di
kantor memberitakan hal tersebut, pokoknya aku bahagia sekali. Tapi...apakah
itu berjalan mulus ? Tidak....masih banyak rintangan yang harus aku lewati.
Sesudah Aldo bisa “berbicara” (
karena belum bisa berkomunikasi) terapi masih berlanjut. Sesuai dengan anjuran
dari Yura Tender bahwa Aldo harus belajar minimal 42 jam perminggu (membuatku
pusing tujuh keliling). Aku mulai mengusahakan untuk memenuhi 42 jam itu.
Setiap hari dimulai dari pukul 8 pagi aku dan Aldo sudah keluar rumah menuju
kelompok bermain Unyil, disana Aldo sampai jam 10,dari situ kami menuju Taman
Pelatihan Harapan, ditempat ini Aldo terapi wicara (speech therapy) selama 1
jam, setelah itu kami menuju jalan beruang rumahnya Shinta untuk melanjutkan
dengan terapi ABA selam 2 jam. Setelah
selesai kami menuju rumah untuk makan siang kemudian pada pukul 3 sore Aldo
akan terapi Okupasi dan Sensory Integrasi selama 1 jam dilanjutkan kembali dengan ABA selama 2 jam di beruang. Apakah selesai ?
belum, setelah makan malam sesi terapi ABA berlanjut lagi dari jam 7 sampai 9
malam. Itulah giliranku untuk belajar bersama Aldo. Apakah berjalan mulus ?
tidak, sekali lagi tidak. Bila satu program tidak achive dan Aldo tantrum
biasanya diikuti oleh aku juga tantrum ( banjir air mata). Pada saat itu aku
merasa begitu ditinggalkan oleh Tuhan. Aku sering bertanya dimanakah Engkau
Tuhan ? kenapa membedakan laki-laki dan perempuan saja anakku tidak bisa? Dan
banyak hal lain yang “anak normal” lainnya paham secara otomatis tapi untuk anakku Aldo
harus diajarkan secara detail (dalam ABA diistilahkan DTT).
Senin, 24 Maret 2014
TEGARLAH
Aku tidak pernah menyangka jika
ternyata aku dikaruniai oleh Tuhan seorang anak yang harus kuasuh dengan penuh
banyak pertanyaan tentang pertumbuhannya, menguras tenaga dan emosi.
Pada awalnya anakku Aldo seperti
bayi lainnya, malah cenderung lebih cepat perkembangannya bila dibandingkan
dengan kakaknya. Pada usia 40 hari anakku Aldo sudah
bisa mengangkat kepalanya tanpa ditopang demikian juga perkembangan lainnya
sangat pesat dibandingkan dengan bayi lainnya. Pada usia 1 tahun Aldo sudah
bisa berbicara 2 patah kata, dan diusia 18 bulan sudah bisa menyanyikan jinggel
iklan favoritnya. Kami sebagai orang tua
sangat bangga dengan perkembangannya tapi ada beberapa kelainan yang lepas dari
pengamatan kami dan..... ternyata oleh salah satu kakak ipar kami yang
mengamati kelainan tersebut. Pada suatu pertemuan keluarga, seperti biasa kami
akan mengajak anak- anak untuk ikut dan disanalah kakak ipar kami bertanya : “kenapa Aldo selalu ketawa walau tidak ada
kejadian yang lucu ?” “Sepertinya Aldo tidak mendengar keributan kita” “ kenapa
Aldo suka melihat benda yang berputar?” ( di dalam ruangan ada kipas angin yang
besar sedang berputar dan tatapan Aldo hanya ke kipas angin tersebut).
Beberapa bulan kemudian, rupanya
kakak ipar kami masih penasaran dan kebetulan bertemu dengan seorang temannya
yang mempunyai anak autis. Teman itu langsung mengatakan: “Pak, keponakanmu itu Autis seperti anak saya”. Tapi kakak ipar
kami rupanya tidak berani atau sungkan memberi tahu kami. Tapi sebagai orang tua yang mempunyai anak
autis teman dari kakak ipar langsung menelpon saya dan juga to the point
memberitahu saya : “Jacqueline, anakmu
itu autis seperti anak saya”. Mendengar itu seperti kilat menyambar di
siang hari, saya terperangah.. tidak bisa berbicara...perasaan campur aduk. Tanpa
menunggu saya langsung mencari artikel dari sebuah majalah tentang anak autis (
artikel tersebut saya simpan karena saya berpikir mungkin suatu saat berguna)
dan langsung menelpon ke alamat yang direferensikan. Jawabannya adalah sama
bahwa Aldo memang gejalanya Autis tapi
harus menunggu diusia 3 tahun baru bisa diterapi.
Saat itulah aku mulai menyadari
perkembangan anakku Aldo tampak berbeda dengan anak lainnya. Aldo suka sekali
meloncat-loncat dan jalannya jinjit serta suka memutar benda yang bulat. Pada ulang
tahunnya yang pertama, kami menghadiahkan sepeda roda tiga untukknya dan baru
kami sadari bahwa Aldo tidak pernah mengendarainya yang ia lalkukan adalah
membalikkan sepedanya dengan posisi roda diatas dan memutar rodanya sampai
berjam-jam lamanya. Kegelisahanku berubah menjadi kepanikan karena ternyata perbendaharaan kata-katanya semakin
menurun dan pada usia 2 tahun Aldo kembali babling seperti bayi. Aku membawa
Aldo ke dokter anak, ke psikiater anak, ke dokter saraf danjawaban yang
kuperoleh beraneka ragam. Ada dokter mengatakan tidak apa-apa tunggu 5 tahun
pasti bisa bicara, ada juga dokter yang langsung memvonis bahwa Aldo terlambat
perkembangannya baik mental maupun kognitifnya sehingga kami tidak perlu
repot-repot untuk menyekolahkan, cari saja suatu ketrampilan untuk menunjang
masa depannya. Mendengar semuanya itu seperti sebongkah beban yang dihempaskan
ke pundakku, aku hanya bisa menangis dan menangis... sambil bertanya kenapa
Tuhan???....kenapa terjadi pada saya ?
Nalarku mengingatkan untuk
menerima semua diagnosa dokter dan menerima bahwa memang anakku Aldo adalah
penyandang autis. Tapi apakah tidak ada jalan keluarnya ? itu yang menjadi
pertanyaan dikepalaku terus menerus. Aku tidak mau anakku tidak bisa berbicara,
aku tidak mau anakku dikatakan bodoh dsbnya.... Maka mulailah aku mencari
informasi tentang autis di internet dan memulai sesi terapi untuk malaikat
kecilku Aldo.
Sabtu, 22 Maret 2014
PRAKATA
Aku selalu
mendengar bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah atas hidup umatNya. Saat
saya bersatu dalam ikatan perkawinan suci dengan Jerry Santosa, aku berharap
memiliki anak-anak sebagai buah cinta kami adalah salah satunya, dan memang
demikian. Kami hidup dalam rencana indah tersebut, dengan semua suka dukanya,
melalui saat sakit dan sehat, dalam segalanya- secara material, emosional dan
spiritual. Kami bertumbuh bersama dan semuanya indah, meski tidak tanpa
konflik, kesulitan-kesulitan dan penderitaan.
Empat belas tahun
yang lalu, Tuhan memberi keluarga kami pengalaman yang unik. Pada tahun
2000, anak kedua kami Aldo didiagnosa
autisme, dan dari situlah tantangan dimulai. Aku mengakui hal itu sebagai saat
yang membuat kami frustrasi. Namun aku dan suamiku percaya bahwa Tuhan memiliki
rencana yang istimewa untuk Aldo dan kami. Perjalanan pengalaman kami tersebut
terasa sulit karena kami memang tidak tahu apa yang kami harus lakukan dan kami
harus mencari tahu tentang autisme dan penanganannya.
Kami telah
berkonsultasi dengan dokter dan psikolog dan terapis, mencoba berbagai
pengobatan, mengikuti diet yang dianjurkan. Aldo setiap harinya mengikuti sesi
terapi ABA ( Aplied Behavior Analysis), Terapi Okupasi dan Sensory Integrasi
dan Terapi Wicara dengan durasi 7 jam setiap harinya. Perjalanan yang sangat
sulit dan melelahkan tetapi membawa kami sekeluarga pada satu tujuan yang Tuhan
harapkan dari kami.
Di dalam blog ini
saya akan mencoba menuliskan pengalaman-pengalaman kami sekeluarga khususnya
pengalamanku bersama Aldo. Aku sepenuhnya berterima kasih kepada semua anggota
keluarga khususnya buat Didi putra kami yang pertama yang harus menjadi lebih dewasa dari pada umurnya dan dia harus
selalu rela dinomor duakan dari adiknya Aldo ( terimakasih Didi, atas segala
pengertian dan pengorbananmu), juga para sahabat, banyak kemurahan hati mereka
untuk kami. Semoga blog ini dapat membuat anda para pembaca menjadi lebih
mengerti tentang individu autistik dan juga menjadi dekat dengan Tuhan juga.
Langganan:
Postingan (Atom)



