Senin, 24 Maret 2014



TEGARLAH
Aku tidak pernah menyangka jika ternyata aku dikaruniai oleh Tuhan seorang anak yang harus kuasuh dengan penuh banyak pertanyaan tentang pertumbuhannya, menguras tenaga dan emosi.
Pada awalnya anakku Aldo seperti bayi lainnya, malah cenderung lebih cepat perkembangannya bila dibandingkan dengan   kakaknya.        Pada usia 40 hari anakku Aldo sudah bisa mengangkat kepalanya tanpa ditopang demikian juga perkembangan lainnya sangat pesat dibandingkan dengan bayi lainnya. Pada usia 1 tahun Aldo sudah bisa berbicara 2 patah kata, dan diusia 18 bulan sudah bisa menyanyikan jinggel iklan favoritnya.  Kami sebagai orang tua sangat bangga dengan perkembangannya tapi ada beberapa kelainan yang lepas dari pengamatan kami dan..... ternyata oleh salah satu kakak ipar kami yang mengamati kelainan tersebut. Pada suatu pertemuan keluarga, seperti biasa kami akan mengajak anak- anak untuk ikut dan disanalah kakak ipar kami bertanya : “kenapa Aldo selalu ketawa walau tidak ada kejadian yang lucu ?” “Sepertinya Aldo tidak mendengar keributan kita” “ kenapa Aldo suka melihat benda yang berputar?” ( di dalam ruangan ada kipas angin yang besar sedang berputar dan tatapan Aldo hanya ke kipas angin tersebut).
Beberapa bulan kemudian, rupanya kakak ipar kami masih penasaran dan kebetulan bertemu dengan seorang temannya yang mempunyai anak autis. Teman itu langsung mengatakan: “Pak, keponakanmu itu Autis seperti anak saya”. Tapi kakak ipar kami rupanya tidak berani atau sungkan memberi tahu kami.  Tapi sebagai orang tua yang mempunyai anak autis teman dari kakak ipar langsung menelpon saya dan juga to the point memberitahu saya : “Jacqueline, anakmu itu autis seperti anak saya”. Mendengar itu seperti kilat menyambar di siang hari, saya terperangah.. tidak bisa berbicara...perasaan campur aduk. Tanpa menunggu saya langsung mencari artikel dari sebuah majalah tentang anak autis ( artikel tersebut saya simpan karena saya berpikir mungkin suatu saat berguna) dan langsung menelpon ke alamat yang direferensikan. Jawabannya adalah sama bahwa Aldo memang gejalanya Autis tapi  harus menunggu diusia 3 tahun baru bisa diterapi.
Saat itulah aku mulai menyadari perkembangan anakku Aldo tampak berbeda dengan anak lainnya. Aldo suka sekali meloncat-loncat dan jalannya jinjit serta suka memutar benda yang bulat. Pada ulang tahunnya yang pertama, kami menghadiahkan sepeda roda tiga untukknya dan baru kami sadari bahwa Aldo tidak pernah mengendarainya yang ia lalkukan adalah membalikkan sepedanya dengan posisi roda diatas dan memutar rodanya sampai berjam-jam lamanya. Kegelisahanku berubah menjadi kepanikan karena  ternyata perbendaharaan kata-katanya semakin menurun dan pada usia 2 tahun Aldo kembali babling seperti bayi. Aku membawa Aldo ke dokter anak, ke psikiater anak, ke dokter saraf danjawaban yang kuperoleh beraneka ragam. Ada dokter mengatakan tidak apa-apa tunggu 5 tahun pasti bisa bicara, ada juga dokter yang langsung memvonis bahwa Aldo terlambat perkembangannya baik mental maupun kognitifnya sehingga kami tidak perlu repot-repot untuk menyekolahkan, cari saja suatu ketrampilan untuk menunjang masa depannya. Mendengar semuanya itu seperti sebongkah beban yang dihempaskan ke pundakku, aku hanya bisa menangis dan menangis... sambil bertanya kenapa Tuhan???....kenapa terjadi pada saya ?
Nalarku mengingatkan untuk menerima semua diagnosa dokter dan menerima bahwa memang anakku Aldo adalah penyandang autis. Tapi apakah tidak ada jalan keluarnya ? itu yang menjadi pertanyaan dikepalaku terus menerus. Aku tidak mau anakku tidak bisa berbicara, aku tidak mau anakku dikatakan bodoh dsbnya.... Maka mulailah aku mencari informasi tentang autis di internet dan memulai sesi terapi untuk malaikat kecilku Aldo.

1 komentar: