TEGARLAH
Aku tidak pernah menyangka jika
ternyata aku dikaruniai oleh Tuhan seorang anak yang harus kuasuh dengan penuh
banyak pertanyaan tentang pertumbuhannya, menguras tenaga dan emosi.
Pada awalnya anakku Aldo seperti
bayi lainnya, malah cenderung lebih cepat perkembangannya bila dibandingkan
dengan kakaknya. Pada usia 40 hari anakku Aldo sudah
bisa mengangkat kepalanya tanpa ditopang demikian juga perkembangan lainnya
sangat pesat dibandingkan dengan bayi lainnya. Pada usia 1 tahun Aldo sudah
bisa berbicara 2 patah kata, dan diusia 18 bulan sudah bisa menyanyikan jinggel
iklan favoritnya. Kami sebagai orang tua
sangat bangga dengan perkembangannya tapi ada beberapa kelainan yang lepas dari
pengamatan kami dan..... ternyata oleh salah satu kakak ipar kami yang
mengamati kelainan tersebut. Pada suatu pertemuan keluarga, seperti biasa kami
akan mengajak anak- anak untuk ikut dan disanalah kakak ipar kami bertanya : “kenapa Aldo selalu ketawa walau tidak ada
kejadian yang lucu ?” “Sepertinya Aldo tidak mendengar keributan kita” “ kenapa
Aldo suka melihat benda yang berputar?” ( di dalam ruangan ada kipas angin yang
besar sedang berputar dan tatapan Aldo hanya ke kipas angin tersebut).
Beberapa bulan kemudian, rupanya
kakak ipar kami masih penasaran dan kebetulan bertemu dengan seorang temannya
yang mempunyai anak autis. Teman itu langsung mengatakan: “Pak, keponakanmu itu Autis seperti anak saya”. Tapi kakak ipar
kami rupanya tidak berani atau sungkan memberi tahu kami. Tapi sebagai orang tua yang mempunyai anak
autis teman dari kakak ipar langsung menelpon saya dan juga to the point
memberitahu saya : “Jacqueline, anakmu
itu autis seperti anak saya”. Mendengar itu seperti kilat menyambar di
siang hari, saya terperangah.. tidak bisa berbicara...perasaan campur aduk. Tanpa
menunggu saya langsung mencari artikel dari sebuah majalah tentang anak autis (
artikel tersebut saya simpan karena saya berpikir mungkin suatu saat berguna)
dan langsung menelpon ke alamat yang direferensikan. Jawabannya adalah sama
bahwa Aldo memang gejalanya Autis tapi
harus menunggu diusia 3 tahun baru bisa diterapi.
Saat itulah aku mulai menyadari
perkembangan anakku Aldo tampak berbeda dengan anak lainnya. Aldo suka sekali
meloncat-loncat dan jalannya jinjit serta suka memutar benda yang bulat. Pada ulang
tahunnya yang pertama, kami menghadiahkan sepeda roda tiga untukknya dan baru
kami sadari bahwa Aldo tidak pernah mengendarainya yang ia lalkukan adalah
membalikkan sepedanya dengan posisi roda diatas dan memutar rodanya sampai
berjam-jam lamanya. Kegelisahanku berubah menjadi kepanikan karena ternyata perbendaharaan kata-katanya semakin
menurun dan pada usia 2 tahun Aldo kembali babling seperti bayi. Aku membawa
Aldo ke dokter anak, ke psikiater anak, ke dokter saraf danjawaban yang
kuperoleh beraneka ragam. Ada dokter mengatakan tidak apa-apa tunggu 5 tahun
pasti bisa bicara, ada juga dokter yang langsung memvonis bahwa Aldo terlambat
perkembangannya baik mental maupun kognitifnya sehingga kami tidak perlu
repot-repot untuk menyekolahkan, cari saja suatu ketrampilan untuk menunjang
masa depannya. Mendengar semuanya itu seperti sebongkah beban yang dihempaskan
ke pundakku, aku hanya bisa menangis dan menangis... sambil bertanya kenapa
Tuhan???....kenapa terjadi pada saya ?
Nalarku mengingatkan untuk
menerima semua diagnosa dokter dan menerima bahwa memang anakku Aldo adalah
penyandang autis. Tapi apakah tidak ada jalan keluarnya ? itu yang menjadi
pertanyaan dikepalaku terus menerus. Aku tidak mau anakku tidak bisa berbicara,
aku tidak mau anakku dikatakan bodoh dsbnya.... Maka mulailah aku mencari
informasi tentang autis di internet dan memulai sesi terapi untuk malaikat
kecilku Aldo.
pengalaman yang tak terlupakan
BalasHapus