MAJU SELANGKAH
Ketika itu hari Minggu, aku
sedang duduk dibangku belakang gereja dengan suamiku bersama Didi dan Aldo (kami
tidak pernah berani duduk di bangku depan karena perilaku Aldo yang sulit
diprediksi). Saat itu Misa sedang berlangsung dan gereja penuh. Pada saat itu
kami lagi khusuk mendengarkan Pastor berkhotbah ketika perhatianku tertarik
pada sesuatu di dekat altar, kepala kecil Aldo sedang mendongak melihat kipas
angin yang tepat berada di atas altar, dia berdiri terpaku tidak bergerak dengan
pandangan mata yang tertuju ke atas ke kipas angin yang sedang berputar.Dan
Pastor yang sedang berkhotbah sempat terdiam memperhatikan anakku Aldo yang
dengan cueknya menatap ke langit-langit. Aku sungguh ketakutan dan bingung
karena aku tidak mengira Aldo bisa lolos dari pengawasanku dan berjalan menuju
altar. Didi pergi menjemput adiknya di depan altar.
Aldo tidak pernah berteriak di
depan umum atau berlari-lari, semenjak sesi terapi ABA diterapkan kepadanya,
perilaku Aldo sudah berubah menjadi lebih patuh asalkan Aldo tidak melihat
benda berputar. Di gereja aku lupa bahwa begitu banyak kipas angin yang
menggantung di langit-langit gereja. Aldo secara otomatis akan berlari ke benda
yang berputar. Baik di mal maupun di jalan.
Sekali lagi Tuhan campur tangan
dalam segala situasi. Melalui benda berputar itu ( kipas angin, outdoor AC)
anakku Aldo mulai bisa berbicara, menghitung dan bertanya. “Ini apa?” itulah
kata-kata yang keluar dari mulutnya bila melihat benda berputar, dan aku akan
menjawabnya :” itu kipas angin” atau “itu AC”. Dalam sesi terapi ABA, Aldo
diajar berkomunikasi memakai compic ( comunication picture). Di rumah kami
tersedia buku compic dan aku melatihnya berbicara melalui gambar. Dimulai dari
hal yang sederhana : “ Aldo mau pipis”, sebelum dia di antar ke toilet untuk
pipis Aldo harus menyusun compicnya.
Kata-kata yang keluar pertama
dari mulut Aldo adalah “ Aldo mau pipis”. Pada saat pertama kali Aldo
mengucapkan kalimat sederhana itu ough.......... seakan aku mendapatkan undian
1 milyar rupiah. Aku langsung meloncat-loncat kegirangan menelpon suamiku di
kantor memberitakan hal tersebut, pokoknya aku bahagia sekali. Tapi...apakah
itu berjalan mulus ? Tidak....masih banyak rintangan yang harus aku lewati.
Sesudah Aldo bisa “berbicara” (
karena belum bisa berkomunikasi) terapi masih berlanjut. Sesuai dengan anjuran
dari Yura Tender bahwa Aldo harus belajar minimal 42 jam perminggu (membuatku
pusing tujuh keliling). Aku mulai mengusahakan untuk memenuhi 42 jam itu.
Setiap hari dimulai dari pukul 8 pagi aku dan Aldo sudah keluar rumah menuju
kelompok bermain Unyil, disana Aldo sampai jam 10,dari situ kami menuju Taman
Pelatihan Harapan, ditempat ini Aldo terapi wicara (speech therapy) selama 1
jam, setelah itu kami menuju jalan beruang rumahnya Shinta untuk melanjutkan
dengan terapi ABA selam 2 jam. Setelah
selesai kami menuju rumah untuk makan siang kemudian pada pukul 3 sore Aldo
akan terapi Okupasi dan Sensory Integrasi selama 1 jam dilanjutkan kembali dengan ABA selama 2 jam di beruang. Apakah selesai ?
belum, setelah makan malam sesi terapi ABA berlanjut lagi dari jam 7 sampai 9
malam. Itulah giliranku untuk belajar bersama Aldo. Apakah berjalan mulus ?
tidak, sekali lagi tidak. Bila satu program tidak achive dan Aldo tantrum
biasanya diikuti oleh aku juga tantrum ( banjir air mata). Pada saat itu aku
merasa begitu ditinggalkan oleh Tuhan. Aku sering bertanya dimanakah Engkau
Tuhan ? kenapa membedakan laki-laki dan perempuan saja anakku tidak bisa? Dan
banyak hal lain yang “anak normal” lainnya paham secara otomatis tapi untuk anakku Aldo
harus diajarkan secara detail (dalam ABA diistilahkan DTT).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar