Rabu, 26 Maret 2014



MAJU SELANGKAH
Ketika itu hari Minggu, aku sedang duduk dibangku belakang gereja dengan suamiku bersama Didi dan Aldo (kami tidak pernah berani duduk di bangku depan karena perilaku Aldo yang sulit diprediksi). Saat itu Misa sedang berlangsung dan gereja penuh. Pada saat itu kami lagi khusuk mendengarkan Pastor berkhotbah ketika perhatianku tertarik pada sesuatu di dekat altar, kepala kecil Aldo sedang mendongak melihat kipas angin yang tepat berada di atas altar, dia berdiri terpaku tidak bergerak dengan pandangan mata yang tertuju ke atas ke kipas angin yang sedang berputar.Dan Pastor yang sedang berkhotbah sempat terdiam memperhatikan anakku Aldo yang dengan cueknya menatap ke langit-langit. Aku sungguh ketakutan dan bingung karena aku tidak mengira Aldo bisa lolos dari pengawasanku dan berjalan menuju altar. Didi pergi menjemput adiknya di depan altar.
Aldo tidak pernah berteriak di depan umum atau berlari-lari, semenjak sesi terapi ABA diterapkan kepadanya, perilaku Aldo sudah berubah menjadi lebih patuh asalkan Aldo tidak melihat benda berputar. Di gereja aku lupa bahwa begitu banyak kipas angin yang menggantung di langit-langit gereja. Aldo secara otomatis akan berlari ke benda yang berputar. Baik di mal maupun di jalan.
Sekali lagi Tuhan campur tangan dalam segala situasi. Melalui benda berputar itu ( kipas angin, outdoor AC) anakku Aldo mulai bisa berbicara, menghitung dan bertanya. “Ini apa?” itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya bila melihat benda berputar, dan aku akan menjawabnya :” itu kipas angin” atau “itu AC”. Dalam sesi terapi ABA, Aldo diajar berkomunikasi memakai compic ( comunication picture). Di rumah kami tersedia buku compic dan aku melatihnya berbicara melalui gambar. Dimulai dari hal yang sederhana : “ Aldo mau pipis”, sebelum dia di antar ke toilet untuk pipis Aldo harus menyusun compicnya.
Kata-kata yang keluar pertama dari mulut Aldo adalah “ Aldo mau pipis”. Pada saat pertama kali Aldo mengucapkan kalimat sederhana itu ough.......... seakan aku mendapatkan undian 1 milyar rupiah. Aku langsung meloncat-loncat kegirangan menelpon suamiku di kantor memberitakan hal tersebut, pokoknya aku bahagia sekali. Tapi...apakah itu berjalan mulus ? Tidak....masih banyak rintangan yang harus aku lewati.
Sesudah Aldo bisa “berbicara” ( karena belum bisa berkomunikasi) terapi masih berlanjut. Sesuai dengan anjuran dari Yura Tender bahwa Aldo harus belajar minimal 42 jam perminggu (membuatku pusing tujuh keliling). Aku mulai mengusahakan untuk memenuhi 42 jam itu. Setiap hari dimulai dari pukul 8 pagi aku dan Aldo sudah keluar rumah menuju kelompok bermain Unyil, disana Aldo sampai jam 10,dari situ kami menuju Taman Pelatihan Harapan, ditempat ini Aldo terapi wicara (speech therapy) selama 1 jam, setelah itu kami menuju jalan beruang rumahnya Shinta untuk melanjutkan dengan terapi ABA  selam 2 jam. Setelah selesai kami menuju rumah untuk makan siang kemudian pada pukul 3 sore Aldo akan terapi Okupasi dan Sensory Integrasi selama 1 jam  dilanjutkan kembali dengan ABA  selama 2 jam di beruang. Apakah selesai ? belum, setelah makan malam sesi terapi ABA berlanjut lagi dari jam 7 sampai 9 malam. Itulah giliranku untuk belajar bersama Aldo. Apakah berjalan mulus ? tidak, sekali lagi tidak. Bila satu program tidak achive dan Aldo tantrum biasanya diikuti oleh aku juga tantrum ( banjir air mata). Pada saat itu aku merasa begitu ditinggalkan oleh Tuhan. Aku sering bertanya dimanakah Engkau Tuhan ? kenapa membedakan laki-laki dan perempuan saja anakku tidak bisa? Dan banyak hal lain yang “anak normal” lainnya  paham secara otomatis tapi untuk anakku Aldo harus diajarkan secara detail (dalam ABA diistilahkan DTT).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar